Ekowisata Boon Pring
Ekowisata Boon Pring

Pantas BUMDes Boon Pring tercatat sebagai salah dari 130 BUMDes terbaik se-Jawa Timur. Karena badan usaha milik desa tersebut berhasil mengelola salah satu potensi wisata alamnya Ekowisata Boon Pring yang ada di Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang dengan baik. 

Ekowisata Boon Pring ini menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD) yang cukup besar setiap tahunnya. Tahun ini pendapatan yang masuk diperkirakan sampai Rp 4,2 miliar. Sementara tahun 2018 sebelumnya mencapai Rp 2,8 miliar.

Komisaris BUMDes Boon Pring Djamaludin menyatakan, pendapatan tersebut sebagian besar berasal dari tiket masuk. Dimana per orang dewasa untuk masuk dikenakan tarif Rp 10.000. Sementara anak-anak Rp 5.000.

"Pendapatan sisanya berasal dari aneka mainan yang sudah disediakan warga setempat di kawasan wisata Boon Pring," kata dia saat menerima rombongan awak media dari Surabaya, Kamis (28/11/2019).

Menurut dia, saat ini wilayah hutan bambu Boon Pring luasnya mencapai 36,8 hektare. Dan masih terdapat sekitar 72 jenis bambu. Kedepan diharapkan dalam waktu dekat sudah lebih dari 100 jenis bambu.

"Setelah ada 100 lebih jenis bambu maka kami siap memproklamasikan tempat ini sebagai museum bambu," bebernya.

Dia menjelaskan dalam hal ini pihaknya bekerja sama dengan lembaga riset negara, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Sebagai upaya serius menambah jenis bambu sekaligus menjadikan tempat tersebut sebagai destinasi wisata yang semakin diminati.

"Peneliti LIPI Prof Elizabeth pernah memberikan arahannya. Sekarang juga sedang dikembangkan bibit bambu di Bogor yang jumlahnya tidak sedikit. Kalau sudah ditanam di sini, maka jenis bambu di sini lebih dari 100 dan kami siap mendirikan museum bambu," ucapnya.

Didirikannya museum bambu lanjutnya diharapkan menambah pendapatan di tempat wisata tersebut. Apalagi pengunjung yang datang tak sekadar berpariwisata, tapi juga belajar tentang jenis-jenis bambu.

Ekowisata Boon Pring memang memiliki pemandangan yang indah, udara sejuk, dan pepohonan rindang. Kampung bambu ini berada di wilayah selatan dan berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Malang, dengan waktu tempuh kurang dari dua jam. 

"Kalau hari biasa jumlah pengunjung sekitar 500an orang. Kalau weekend bisa seribu orang lebih. Rata-rata wisatawan lokal dan datang secara rombongan," lanjut Djamaluddin kembali.

Objek wisata Boon Pring dulunya berupa hutan bambu. Penduduk sekitar memanfaatkannya untuk membuat rumah dan kayu bakar di dapur. Hingga muncul program konservasi dari pemerintah pada 1978, masyarakat kemudian bergotong royong membuat embung yang kini disebut telaga dengan kedalaman 2-3 meter.

Pada tahun 1983 penanaman beragam jenis bambu dimulai sampai berumpun-rumpun sesuai jenis masing-masing. Sebelum bernama Boon Pring, objek wisata ini sebelumnya bernama Sumber Andeman atau Taman Wisata Andeman. Air sungai telaga berasal dari enam mata air, yakni Sumber Adem, Sumber Towo, Sumber Gatel, Sumber Maron, Sumber Krecek, dan Sumber Seger. Sumber Adem dan Sumber Towo menjadi mata air terbesar.