Model dan artis cantik Olga Lidya menyampaikan pendapatnya terkait KPK (Ist)

Model dan artis cantik Olga Lidya menyampaikan pendapatnya terkait KPK (Ist)


Pewarta

Dede Nana

Editor

A Yahya


Polemik terkait KPK terus memanas. Belum tuntas harapan dari para penggiat korupsi, mahasiswa, dan tentunya di tubuh KPK sendiri, terkait pembatalan revisi UU 30 tahun 2002, DPR telah mengesahkan pimpinan KPK baru. Pengesahan itu juga dinilai sejumlah  kalangan, khususnya Ketua KPK Firli Bahuri, sebagai bagian dari rencana besar menggembosi lembaga antirasuah ini.

Berbagai pendapat pun berseliweran terkait nasib KPK tersebut. Tentunya dengan pro dan kontra yang juga terus terjadi di dalam masyarakat. Tak terkecuali dari para artis Indonesia yang juga ikut bicara atas polemik itu.

Olga Lidya, misalnya, turut angkat bicara. Walaupun dirinya secara langsung menyampaikan tidak begitu paham dengan permasalahan rumusan UU KPK dan bukan orang hukum. Tapi, artis cantik ini mengatakan, bahwa memang harus ada perubahan dalam Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3).

Dimana, selama ini KPK tidak mengenal adanya SP3 pada saat mereka melakukan tugasnya melakukan pemberantasan korupsi.
"Tanggapan saya hanya seputar SP3. Saya bukan orang hukum, tapi harus ada mekanisme penghentian kasus dalam persoalan hukum. Ada beberapa kasus yang jalan di tempat bertahun-tahun. Ada yang menjadi tersangka sampai 4 tahun. Saya pikir ini tidak adil," kata Olga menyampaikan terkait beberapa hal atas tidak adanya SP3 di KPK.

"Bayangkan kalau ternyata yang bersangkutan di pengadilan terbukti tidak korupsi, itu 4 tahun bagaimana cara menghidupi keluarganya? Siapa yang berani mempekerjakan seorang tersangka KPK?" ujarnya.

Olga juga khawatir soal tidak adanya SP3 di KPK, sehingga dirinya menegaskan harus ada mekanisme penghentian kasus bila memang tidak cukup bukti. "Kalau memang tidak cukup bukti ya mau nggak mau harus dihentikan kasusnya. Presume of innocent harus dijalankan, prinsip kehati-hatian, lebih baik melepas 100 penjahat daripada salah tangkap 1 orang," urainya yang juga menyampaikan, bahwa KPK tetap dibutuhkan dalam pemberantasan korupsi.

Berbalik dengan Pandji Pragiwaksono yang secara lugas dan tanpa adanya penilaian di sisi lainnya, seperti yang disampaikan Olga, terkait KPK. Pandji menyoroti bahwa revisi UU KPK dinilai melemhakan lembaga antirasuah ini. Dirinya juga mengajak untuk melakukan tekanan kepada presiden Jokowi agar tidak melanjutkan pembahasan RUU KPK. "Mari kita berikan tekanan kepada Pak Jokowi untuk tak mendukung atau melanjutkan pembahasan revisi UU KPK karena itu akan membuat lemah pemberantasan korupsi di Indonesia," tulis Pandji di Instagram Stories-nya.

Pernyataan Pandji yang mengarah ke Jokowi itu didasarkan, bahwa pembahasan RUU KPK dilakukan bersama antara pemerintah dan DPR. "Tapi banyak yang bilang Jokowi nggak bisa disalahkan karena ini buatan DPR. Tapi banyak yang nggak tahu  bahwa pembahasan ini dilakukan bersama-sama kok, bersama-sama antara DPR dan pemerintah," ujarnya.

Masih menurut dia, presiden juga dinilai tidak update kondisi. "Nah, jadi Presiden Jokowi bilang, beliau tak tahu isi dari revisi UU KPK itu, menandakan bahwa mungkin beliau tak diupdate sama menterinya dan itu menggambarkan kualitas beliau sebagai presiden atau mungkin beliau tahu, tapi tak berkata jujur dan itu juga bukan indikasi yang baik untuk kita semua."

Bukan hanya Pandji, komika Ernest Prakasa juga mengatakan hal senada. Dirinya yang dalam polemik KPK, masuk dalam kubu kontra bagi pemerintah, mengatakan kekecewaannya. "Saya kecewa. Amat, sangat, kecewa. Walau revisi belum tuntas, tapi menurut gue harusnya ditolak aja," cuit Ernest di akun Twitternya.

Ernest juga menyoroti Jokowi yang malah menyetujui RUU KPK dibahas dan memberi arahan kepada Kemenhukam untuk hal itu bersama DPR. "Terimakasih Pak @jokowi, karna telah menyongsong periode kedua dengan langkah yang mengecewakan. Saya jadi belajar untuk tidak berharap banyak. Karna kata Koh Afuk di Cek Toko Sebelah, kalo kita berharap banyak, maka harus siap kecewa banyak," kicaunya.

Walau kecewa berat, Ernest masih punya harapan pemerintah tetap menolak hasil pembahasan RUU KPK, nantinya. "Apa saya kecewa? Iya. Apakah saya putus asa? Tidak juga. Melihat rekam jejak Pak Jokowi di periode pertama, harapan saya belum sepenuhnya pupus. Let's see." kicau Ernest.


End of content

No more pages to load