Whisnu Sakti dan Bambang DH (Google)

Whisnu Sakti dan Bambang DH (Google)



Wajah Whisnu Sakti Buana terlihat seperti sedang resah Minggu (7/7) siang.

Ketika itu sedang diadakan Konfercab PDIP di Gedung Empire Palace, Surabaya.

Ditemui saat jeda istirahat siang, memang tidak banyak yang dilontarkan Whisnu ketika coba diwawancarai. 

Gaya bicaranya yang luwes serta gamblang dalam menjelaskan sesuatu seperti mendadak macet.

"Belum tahu nanti," jawabannya singkat ketika ditanya tentang kepengurusan DPC PDIP Surabaya 2019-2024.

Setelah jeda selesai dan Konfercab dimulai lagi ternyata diumumkan jika Whisnu tidak lagi ditunjuk sebagai ketua. Artinya dia bertahan dua periode saja memimpin DPC PDIP Surabaya sejak 2010. 

Namanya digantikan oleh kader lain Adi Sutarwiyono. Nama yang sangat di luar perkiraan.

Karena pada Rakercab PDIP Surabaya yang digelar 27 Juni di Gedung Wanita, Jalan Kalibokor sebanyak 31 pengurus anak cabang (PAC) di tingkat kecamatan menginginkan Whisnu kembali memimpin PDIP Surabaya.

Sontak saja pengumuman itu memunculkan reaksi keras dari para pengurus di PAC. 

Mayoritas tidak setuju dengan ditunjuknya Awi sapaan akrab dari Sutarwiyono untuk memimpin.

Suasana pun memanas ketika itu. Interupsi keras disuarakan para kader di pengurus kecamatan. 

Hampir saja terjadi bentrok sebelum Whisnu tampil ke depan untuk mendinginkan suasana.

Whisnu pun kemudian beranjak dari tempat duduknya. Dia lalu menghampiri Awi dan menyalaminya. 

"Selamat menjalankan tugas partai," kata Whisnu.

Tidak lama kemudian Whisnu memilih untuk keluar dari arena konfercab. 

“Kita harus hormati keputusan DPP. Saya sebagai petugas partai harus tunduk pada putusan partai,” ujarnya singkat saat ditanya para wartawan.

Meski Whisnu sudah legowo dengan keputusan partai, namun tidak dengan para pendukungnya. 

Para pendukungnya memilih untuk melakukan perlawanan atas keputusan dari DPP PDIP itu. Hingga rakercab tidak bisa lanjut dan sementara Deadlock.

Iwan Tjandra ketua PAC Sawahan misalnya memprotes keras keputusan itu. 

"Kami protes. Sebab, nama yang kami usulkan untuk ketua DPC PDIP Surabaya adalah Pak Whisnu," terangnya.

Tidak lama kemudian di dalam arena muncul nama Bambang DH yang disebut-sebut berada di balik keputusan itu. 

Itu juga sama diteriakkan oleh para kader. Padahal Bambang DH tidak berada di lokasi saat itu.

Bambang DH saat ini menjabat sebagai Ketua Bappilu DPP PDIP. 

Selain itu sebelumnya Bambang DH juga pernah menjabat sebagai wali Kota Surabaya selama dua periode. 

Sehingga dianggap masih memiliki power di tingkat pusat dan juga memiliki banyak jagoan kader di tingkat Kota Surabaya yang tidak diakomodir oleh Whisnu saat menjabat sebagai ketua DPC PDIP Surabaya selama dua periode juga.

Dikutip dari Republika.co.id Surokim-Abdussalam pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura mengatakan di Surabaya memang ada dua kubu faksi PDIP tersebut. 

Yaitu, faksi Bambang DH dan Faksi Whisnu Sakti. Selain itu ada faksi lain dari kubu Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

"Tiga faksi itu yang akan menentukan, antara faksi Wishnu representasi partai, Risma kader birokrat dan Bambang Dwi Hartono representasi dari PDI Perjuangan kultural. Kontestasi dan relasi antarketiga faksi itu yang akan menentukan dinamika Pilkada Surabaya," ujarnya.

Namun dari ketiga faksi tersebut yang sangat berpengaruh di tingkat partai adalah kubu Bambang DH dan Whisnu. 

Karena keduanya merupakan kader asli partai berlogo banteng. Sedangkan Risma bukan dan berangkat dari latar belakang seorang birokrat.

Persaingan antara faksi Bambang dan Whisnu ini sebenarnya sudah sangat terlihat sejak pileg 2019 yang baru digelar bulan Juni lalu. Persaingan jago keduanya di tingkat caleg begitu kentara.

Beberapa jago dari Whisnu bahkan ada yang terlempar dari daerah pilihan hingga gagal menjadi calon kembali meskipun sebagai petahana. 

Salah satu petahana yang dicoret tersebut adalah sosok Anugerah Ariyadi. 

Kemudian ada juga dua sosok petahan lain yang dipindah dari Dapil III, contohnya Riswanto dan Erwin Tjahyuadi. 

Di Dapil III tersebut informasi yang dihimpun SurabayaTIMES Bambang DH menaruh jagonya. Salah satu nama adalah Abdul Ghoni. 

Ghoni adalah caleg muda dari daerah Kenjeran yang memang sudah ikut Bambang DH dalam pengkaderan partai sejak kuliah.

Selain itu tidak lama kemudian muncul pesan berantai di malam harinya setelah adanya Konfercab di siang hari. 

Bahwa di Pilwali nanti dengan menempatkan Awi sebagai ketua Bambang akan menempatkan seorang pengusaha serta istrinya Dyah Katarina yang bersiap maju dalam Pilwali Surabaya 2019.

Sosok Awi yang terpilih sebagai ketua dan Baktiono sebagai sekretaris memang terkenal orang dekat dari Bambang DH. 

Sementara sekretaris sebelumnya Syaifuddin Zuhri terkenal dekat dengan Whisnu.

Sayangnya Bambang DH belum memberikan komentar resmi terkait ini. 

Ketika dikonfirmasi soal ada pesan berantai terkait dia yang bakal memajukan istrinya pada Pilwali 2019 nanti tidak melakukan bantahan ataupun membenarkan. 

Pesan yang terkirim dibaca namun, hanya dibalas dengan emoticon senyum.

 


End of content

No more pages to load